Petilasan Ki Ageng Mangir

Oleh : gudegmanggar.com

Candi untuk ritual sembahyang, dok. gudegmanggar.com

Suwandoyo atau mbah Bali seorang sepuh asal Mangkuyudan, Pensiunan TNI AD berpangkat kapten, kini melestarikan situs Ki Ageng Mangir Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan Kabutapaten Bantul.Mantan anggota Kompi I Widodo di jaman perjuangan

kemerdekaan itu terakhir menjadi warga Kodam Udayana sehingga bertempat tinggal di Pulau Bali. Berikut ini rangkuman pernyataan Pria kelahiran Yogyakarta 1927 itu kepada Tim Projotamansari.

Saya tidak mengaku-aku sebagai anak turun Ki Ageng Mangir, tetapi mbah saya Mangun Pertomo adalah orang Mangir. Ada perasaan tidak rela dalam diri saya, ketika mengenang selama 350 tahun dijajah Belanda, bumi Mangir telah ’dipermalukan’ bahkan ’dihapus’ keberadaannya dalam panggung sejarah. Keluhuran Ki Ageng Mangir seoalah terkubur oleh puing-puing keburukan yang tidak boleh diungkit-ungkit oleh siapapun termasuk rakyat Mangir. Jelas yang demikian itu menyesatkan.Nurani saya digerakkan pada tahun 1984 oleh secercah petunjuk yang saya yakini sebagai wangsit

mbah swandoyo/mbah bali, dok.gudegmanggar.com

’Koe sing kuat lan biso, rumaten omah neng Mangir’ (Anda yang mampu dan bisa, peliharalah rumah di Mangir). Suara hati saya kemudian menggerakkan saya untuk berusaha membeli tanah milik warga Mangir yang menjadi tapak tilas Ki Ageng secara bertahap.Untuk itu saya berpantang meminta-minta bantuan kepada orang lain, tetapi dengan uang sendiri akhirnya terkumpul sejumlah lahan seluas 7000 m2 dimana situs Ki Ageng Mangir berada. Itulah yang sekarang saya lestarikan untuk WISATA SPIRITUAL dan untuk kepentingan bangsa tanpa pandang bulu. Bukankah Ki Ageng Mangir itu perintis kebudayaan kuno yang kini menjadi kepribadian bangsa kita? Keberadaan Mangir sebagai desa dan situs budaya paling tua di wilayah Bantul sangat tepat dan nyata tak dapat diragukan lagi. Bahkan keberadaan Desa Mangir yang dinyatakan dalam Babad Mangir sudah ada sejak Jaka Wanabaya menerima wangsit di Gua Langse supaya pergi ke Desa Mangir adalah memperkuat hal tersebut, yaitu Desa Mangir telah ada dan tentu ada pemimpinnya.

Situs Mangir,dok.gudegmanggar.com

Karena situs Mangir saya anggap bernilai luhur dan merasa memanggil hati nurani saya yang paling dalam maka dengan swadaya selama 25 tahun terwujudlah hamparan pekarangan yang saya bangun tembok batu merah seperti zaman dahulu kala. Di dalamnya saya buat bangunan Altar bukan untuk agama tertentu tetapi ruang publik untuk bermeditasi (mengheningkan cipta) atau sekedar untuk duduk-duduk menenangkan diri secara spiritual. Itulah maksud saya membuat bangunan ini, yaitu bukan membuat tempat peribadatan tetapi tempat wisata spiritual.

Tempat mengembalikan jati diri bangsa indonesia yang sejatinya berbudi pekerti luhur. Seperti yang ditinggalkan pemuka masyarakat desa kuno yaitu Ki Ageng Mangir I, II, III, IV, serta diteruskan para pemimpin bangsa kita pada jaman perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu berupa persatuan, kesatuan dan gotong royong.

Sumber : http://www.gudegmanggar.com/petilasan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>